Maaf

postingan note ini aku tulis duluuuu banget pas 01 April 2011. Heheh, ketika itu aku menyadari sesuatu bahwa jalan orang yang paling deket denganku akhirnya mau nggak mau harus berbeda. Sedih sobb, sedihhh banget karena perbedaan itu bukan kami sendiri yang buat. Semua Allah yang ngatur…. Biarlah kemudian menjadi episode cerita persahabatan tersendiri yang walau pahit tapi mau nggak mau harus kami jalan i dalam perangkaian mimpi kami masing2.

cekidot::
“semua berubah…. kamu disana dan aku disini…. walo bersama namun jalan dan arah kita tetaplah beda. Aku yang melihat kenyamanan perjalananmu, yang sebelumnya telah kita rencanakan, harusnya bersyukur…. tapi kenapa hati ini sakit?? maaf, mungkin sudah saatnya aku harus sadar, jalan kita benar2 sudah tidak lagi sama. seperti hal nya ketika Rasul mengatakan pada org kafir yang memintanya setengah2 dalam menjalankan agama. dengan tegas turunlah ayat “Lakum diinukum waliyadien” yang artinya bagimu agamamu, bagiku agamaku. dengan kata lain, urusanmulah yang menjadi urusanmu dan urusanku tetaplah urusanku. tidak ada intervensi dalam setiap urusan masing2 pribadi.

kini aku hanya mampu berpesan, jangan biarkan orang lain mengintervensi mimpi-mimpi, harapan, angan dan cita-cita mu termasuk aku. dan akupun tak akan membiarkan orang lain mengintervensi mimpiku termasuk dirimu. maaf kawand, jalan kita memang telah berbeda. namun satu hal yang pasti, ukhuwah ini tak akan terhenti. ketika kamu jatuh, sedih, ataupun kamu kecewa suatu saat nanti, ingatlah hari ini dan tengoklah ke belakang bahwa aku kan tetap ada di sini…..

gimanapun… aku tetap ada di sini…..”
cek tekape gan:: disini

Maafkan aku sahabatku….

Pengen nulis. Bawaannya lagi kesel. Bete. Hiks… mengapa selalu kayak gini?? selalu berantem, pertengkaran-pertengkaran kecil yang menghiasi persahabatan kami. Kadang pas lagi ga ketemu lama gini, bawaannya kangeeeeeeeeeeeennnn banget. Tapi kalo pas lagi tiap hari ketemu bawaannya bertengkar terus. T.T jangankan ketemu, dua mingguan gag ketemu ajja sempet2 nya bertengkar lewat sosial media.
Sahabat. Sahabat adalah orang yang bisa membuat kita nyaman, menjaga, tertawa bersama, penyokong, penguat dan sebagainya. Dia adalah seseorang yang mengingatkan ketika kita salah. Memberi maaf ketika kita berbuat salah. tersenyum pas kita dengan seenak jidat ngebanyol gak jelas dan super garing. yang nyowel2 gag jelas ketika kita sok sibuk hanya demi urusan -urusan remeh temeh penghangat nuansa persahabatan. yang inget tanggal ulangtahun kita (walo emang ga ada tuntunannya). yang bakalan minta maaf sampe kita bener2 maafin pas dia ada salah. Bahkan sahabat adalah seseorang yang terkadang sering ikut-ikutan ngegalau ga jelas pas kita galau. (hehehe jadi keinget Maje). Namanya juga sahabat (serasa sehangat kerabat). mereka adalah kawan terdekat kita. Keluarga kedua mungkin analogi nya. Pas lagi enggak ama keluarga, sahabatlah basis perlindungan yang membuat kita nyaman dari dunia sekitar.
Sahabat, sudahkah aku berlaku sebagaimana sahabat yang baik buat sahabat-sahabatku??
Maafkan aku, sahabatku….

Pudarnya Pesona Cleopatra

NE CERPEN ASLINYA BUATAN Habiburrahman El Shirazy

Monday, 25 February 2008 21:07

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalam
kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.
“Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren
Mangkuyudan Solo dulu,” kata ibu.

“Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan
besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon
keikhlasanmu,” ucap beliau dengan nada mengiba.

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah.
Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin
menjadi mentari pagi di hatinya, meskipun untuk itu aku harus
mengorbankan diriku.

Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun
sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu
saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan
impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa
berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah
(lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia
memang baby face dan anggun. Namun garis-garis kecantikan yang
kuinginkan tak kutemukan sama sekali.

Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “Cantiknya alami, bisa
jadi bintang iklan Lux lho, asli !” kata tante Lia. Tapi penilaianku
lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan
Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung
melengkung indah, mata bulat bening khas Arab, dan bibir yang merah. Di
hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit
cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.

Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya
meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk di pelaminan bagai mayat
hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan empat group
rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat
Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku
meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT
atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta,
hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca
ayat-ayatNya. Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi
kebohonganku dan kepura-puraanku.

***

Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.
Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah
hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama
dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit
cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya
yang teduh tetap terasa asing.

Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai
kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh
rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang
dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam,
acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau
ruang kerja. Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri
sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.

Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama,
karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab,
“tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus
belajar berumah tangga.”

Ada kekagetan yang kutangkap di wajah Raihana ketika kupanggil
‘mbak’, “Kenapa Mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa Mas sudah
tidak mencintaiku,” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih.

“Wallahu a’lam,” jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana
diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk
kakiku, “Kalau Mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri,
kenapa Mas ucapkan akad nikah?”

“Kalau dalam tingkahku melayani Mas masih ada yang kurang berkenan,
kenapa Mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa Mas diam saja, aku harus
bersikap bagaimana untuk membahagiakan Mas, kumohon bukalah sedikit
hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan
ibadahku di dunia ini,” Raihana mengiba penuh pasrah.

Aku menangis menitikkan air mata, bukan karena Raihana tetapi karena
kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak
berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap
melayaniku, menyiapkan segalanya untukku.

***

Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai di rumah habis
maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas
kopi buatan Raihana tadi pagi. Memang aku berangkat pagi karena ada
janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir.

“Mas tidak apa-apa,” tanyanya dengan perasaan kuatir. “Mas mandi
dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi
mendidih,” lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. ”Mas airnya
sudah siap,” kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung
ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri di
depan pintu membawa handuk. ”Mas aku buatkan wedang jahe.” Aku diam
saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan.

Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan
memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. “Mas
masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam,
minyak putih, atau jamu?” tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar.
”Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan
untuk membantu Mas”.

“Biasanya dikerokin,” jawabku lirih. “Kalau begitu kaos mas dilepas
ya, biar Hana kerokin,” sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku.
Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar
mengeroki punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus.

Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur
kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat
Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al
Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis
tapi tak semanis gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra.

Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku
untuk makan malam di istananya. “Aku punya keponakan namanya Mona Zaki,
nanti akan aku perkenalkan denganmu,” kata Ratu Cleopatra. “Dia
memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan
berniat memperkenalkannya denganmu.” Aku mempersiapkan segalanya. Tepat
pukul 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian
pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi
yang berhias berlian.

Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba “Mas, bangun,
sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya,” kata Raihana
membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. “Maafkan aku Mas,
membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya,” lirih Hana
sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam.

Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus.
Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan
mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik
membangunkanku untuk sholat Isya.

Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu
dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku
benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai
Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah
pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.

***

“Mas, nanti sore ada acara aqiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga
akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang
bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang,”
suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm.
Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan
segelas wedang jahe.

Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja.
“Maaf..maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana,” lirihnya, lalu
perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. “Mbak! Eh maaf,
maksudku D..Din..Dinda Hana!,” panggilku dengan suara parau tercekak
dalam tenggorokan.

“Ya Mas!” sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan
pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum,
agaknya ia bahagia dipanggil ‘dinda’. Matanya sedikit berbinar.
“Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat
dhuhur, insya Allah,” ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum
yang kupaksakan.

Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum
bersinar di bibirnya. “Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau
pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang
memilihkan ya?” Hana begitu bahagia.

Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar
mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama
ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka
padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah.

Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku
memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini. Tapi, setetes
embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan
aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa
menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.

Acara pengajian dan aqiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana
membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana,
kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh
bangga. “Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang
paling ideal dalam keluarga!” sambut Yu Imah disambut tepuk tangan
bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah.
Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis
disebut pasangan ideal.

Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan
terbaik di kampusnya dan hafal al-Quran lantas disebut ideal? Ideal
bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta
yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi
memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik
meneteskan rasa bahagia.

Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana.

Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat
kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata
keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali
menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia
mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing
dengan sikapku.

Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang
keturunan. “Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada
tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu,” kata ibuku.
“Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami.
Bukankah begitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku
tergagap dan mengangguk sekenanya.

Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan
Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami
betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan
bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah
Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri.
Raihana hamil. Ia semakin manis.

Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak
kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera.
Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak
kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya, “Mana tanggung
jawabmu!” Aku hanya diam dan mendesah sedih. “Entahlah, betapa sulit aku
menemukan cinta,” gumamku.

Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki
bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya
dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia ke
rumahnya.

Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku
tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal di kontrakan. Ketika
aku pamitan, Raihana berpesan, “Mas, untuk menambah biaya kelahiran anak
kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh di
bawah bantal, nomor pin-nya sama dengan tanggal pernikahan kita.”

Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap
hari aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah
apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus
menyiapkan segalanya. Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah
terbiasa saat kuliah di Mesir.

Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat
aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa
tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing
dan perut mual. Saat itu terlintas di hati andaikan ada Raihana, dia
pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati
masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan
menutupi tubuhku dengan selimut.

Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam
enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum
sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan
ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat
sholat subuh.

Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus.
Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan
mutu dosen mata kuliah bahasa Arab. Diantaranya tutornya adalah
professor bahasa Arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan
beliau tentang Mesir.

Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang
dosen bahasa Arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia
menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur
dijalani. ”Apakah kamu sudah menikah?” kata Pak Qalyubi.

“Alhamdulillah, sudah,” jawabku.

“Dengan orang mana?”.

“Orang Jawa.”

“Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir
banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah.
Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?”.

“Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran”.

“Kau sangat beruntung, tidak sepertiku.”

“Kenapa dengan Bapak?” “Aku melakukan langkah yang salah, seandainya
aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana
seperti sekarang”.

“Bagaimana itu bisa terjadi?.”

“Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan karena
terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya
begini, saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat
ke Mesir dengan biaya orang tua. Di sana saya bersama kakak kelas
namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu,
tahun pertama saya lulus dengan predikat jayyid, predikat yang cukup
sulit bagi pelajar dari Indonesia.

Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah
tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya
yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya
jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantik itu. Saya
bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dia. Ternyata
perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar
oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak
tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih
yang kedua.

Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan
begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari
mahasiswi Al-Azhar yang hafal al-Quran, salehah, dan berjilbab. Itu
lebih selamat dari pada dengan Yasmin yang awam pengetahuan agamanya.
Tetapi saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya
berhasil menikahi Yasmin.

Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir. Perabot
rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S-1 saya
kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal
di Indonesia. Kami langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota
Medan.

Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin
mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua
yang diinginkan Yasmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin
nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah.
Saya minta Yasmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun
sekali, Yasmin tidak bisa.

Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak
terpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri
saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman
alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa
mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat.
Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin
rending, saya harus ke warung. Yasmin tidak mau tahu dengan masakan
Indonesia.

Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan
namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak
penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya
minta Yasmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah
membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya.
Sepupunya mendapat suami orang Mesir.

Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah
diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit,
ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya
mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis.
Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang
bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak
ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedi yang menyakitkan. “Aku
menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku
tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir.”

Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia
bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya
itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.

Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan.
Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya
dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya
yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang
berisi berita bohong.

Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya
mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah
Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung
menggigau meminta ibunya pulang.”

Mendengar cerita Pak Qalyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan
hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya
terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bulan aku berpisah dengannya.
Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat
shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah
pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan
istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah
Raihana telah menyala di dindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana
sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi
melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan
tabungannya.

Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku
ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku
ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku
tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil
uang tabungan, yang disimpan di bawah bantal. Di bawah kasur itu
kutemukan kertas merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat
cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk
istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila!
Jangan-jangan istriku serong.

Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabbi, ternyata
surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku
zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya
akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita
yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya.
Dan ya Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya.
Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.

“Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh di hadapan-Mu. Lakal
hamdu ya Rabb. Telah Kau muliakan hamba dengan al-Quran. Kalaulah bukan
karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok ke
dalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri
hamba,” tulis Raihana.

Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa, “Ya Allah inilah hamba-Mu
yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintu-Mu,
melabuhkan derita jiwa ini ke hadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini
hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega
suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa
rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih
kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang,
ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada
suamiku.

Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena
kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan
penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba
kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha
Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta
ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah
dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali
Engkau, Maha Suci Engkau.”

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru
yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana
terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan
pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tangannya yang
halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan
haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angin sejuk yang turun dari
langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah
memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan
cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya
Raihana terus berkilat-kilat di mata. Aku tiba-tiba begitu
merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi cintaku dengan
Raihana.

Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang
menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris
tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku.
Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu- sedu.
Aku jadi heran dan ikut menangis.

“Mana Raihana Bu?”. Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi.

“Raihana…, istrimu….istrimu dan anakmu yang di kandungnya”.

“Ada apa dengan dia?”

“Dia telah tiada.”

“Ibu berkata apa!”

“Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar
mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat.
Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala
kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu. Dia meminta maaf karena
tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak
sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya”. Hatiku bergetar
hebat. “Kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?”.

“Ketika Raihana di bawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang
untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke
kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin
mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu
ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat
sedih, jadi maafkanlah kami.”

Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku
merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus
dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia
telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku
untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku
dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira. Ibu mertua
mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru di kuburan pinggir
desa. Di atas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat
Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu
dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia
tiba-tiba gelap semua.

*entahlah saya selalu menangis membaca ini, apalagi beberapa hari
ini saya sedang sakit hati. sakit hati karena ulah teman saya
sendiri….semoga ending nya manis walau dia selalu melukai hati saya.

baca dewe wae lah….

Jadi Dokter itu….

Jadi dokter itu, kudu siap ngadepin siapapun pasien nya nanti. hiks, belum jadi dokter aja saya udah dicoba, saya harus berani nyuntik pasien di luar kemampuan saya. padahal umur “kemahasiswaan” juga baru dua semester. itu ajja diiringin senyum manis remed-remed di setiap blok nya. emang sih saya udah diajarin nyuntik, dan saya tahu suntik apa yang harus saya berikan pada “calon probandus ASLI” pertama saya. Insulin. Intraderma ato intrakutan. pake spuit 26, 1/4-1/2″. ada spuit khusus nya sih tapi sebenarnya yang jadi masalah bukan jarumnya, spuitnya, dosis nya ato apanya… tapi MENTAL saya sobb… hiks. mana “calon probandus ASLI” saya udah lumayan sepuh lagi. hiks ayooolah, mengapa saya harus dituntut untuk menyntik probandus asli sekarang??? hiks… why??

agggrrrrrrrrrrhhh sekali lagi saya harus memakai rumus ibu saya:: ambil nafas dalam-dalam, buang rasa ragu dan bulatin tekat. Ingat satu kalimat mujarab:: “Kudu Teteg, yen ra Teteg rasah dadi dokter”. T.T

okkkeeeehhh met berjuang esok pagi ien…
tobecontinue

Hujan

Tiba-tiba rindu datangnya hujan. Entah karena habis baca secarik kertas yang mengkisahkan tentang hujan atau karena merasa hawa beberapa hari terakhir terlalu panas.. ahh entahlah… Hujan, walau deras, walau rintik-rintik, walau berpetir, selalu ada cerita di balik hujan. Dibalik badai air dan angin yang menyerangpun selalu ada kisah yang sangat pantas untuk dikenang. Hujan, membasahi tanah-tanah yang kering menjadi segar dan basah. entah kenapa, aku sangat rindu hujan malam ini.

T.T

Episode Sahabat

cerita… tentang seorang iin. Akhirnya ada juga yang menulis kisah tentang saya… terharu. Spesial big thanks to Niken yang udah nulis kisah tentang ku. Ahh nikeen, seorang cewek tinggi kecil yang akhir2 ini mempunyai ruang tersendiri di sudut hati saya. Tawa nya, persahabatannya, rasa setia nya sebagai seorang teman mempunyai karakter ke khas an tersendiri di mataku. gag usah basa basi, cekidot ajja yok sobb cerita dia.

Dari Porsanti sampai Masalah “Hati” :p

Cerita tentang Sahabatku
Duh judulnya udah ngomongin hati haha.. Belum, belum masalah curhat niiy.. xixi
Ok, and the story has been begun..
Hmm namanya disamarkan dulu yaa … :p
Mulai masuk kuliah, aku belum terlalu kenal, meskipun sedikit banyak aku tau bagaimana si *** ini..
Satu semester, aku cuma tau dia orangnya asik, easy going.. Begitulah pokoknya.. :D
Semester 2.. Emm mulai kapan ya?? Porsanti? Sepertinya iya… hehe
Jadi, Porsanti itu adalah Pekan Olahraga dan Seni antar Tingkat Fakultas Kedokteran UNS :)
Nah, *** tu orang yang selalu respon kalau aku ajak nonton pertandingan ini dan itu.. Mulai dari futsal (walaupun akhirnya dia ngga ikut main yang futsal cewek), basket (kabarnya ada cerita lucu di sini, sayang aku ngga nonton gara2 tentiran osce TT tapi habis itu aku alngsung cap cus ke gor buat nyamperin dia yang sms aku katanya mau numpang mandi di kosan ku.. Tapi eh tapi, dia malah curhat tentang cerita lucu itu, hihihihi), trus voli (widih asik banget nih.. Wkwk.. Di lapangan menwa sampai maghrib2.. Dengan kehebohan yel2 Achilles hasil karya Adigama Priamas a.k.a G*mbr*nk hehhe.. Voli juga termasuk salah satu pertandigan yang paling diminati penonton.. Apalagi waktu pertandingan semifinal lawan 2008, duh akhirnya menang :’) hiks jadi terharu.. Dan waktu final yang walaupun kalah tetep aja segala kegilaan Achilles yang dimotori oleh jenk *** dan segenap bala tentaranya berhasil menggemparkan menwa *versi lebay.. xixixi)..
Lanjuut…
Yang paling aku suka adalah ngga pernah yang namanya nonton pertandingan di mana aku satu2nya cewek di sana.. Selain ada ilma, dhyani, puput, tentu saja ada yang namanya Ms. *** :D :D
Mengingat kegilaan dan kecanduan ku pada sebuah pertandingan (seperti waktu dekan cup dulu, walau cuma ada 2 atau 3 cewek, nekat aja deh aku nonton hihi… demi sepakbola :D hahahah.. Sampai yang waktu di gor uns aku ikut “berantem” sama supporter 2009 wkwkkw *malah curhat dewe to hihi ^^)
Cerita belum berakhir…..
Hingga tiba saatnya penutupan porsanti.. Jam 1 aku udah stand by di depan joglo, basecamp Achilles (oya, Achilles adalah sebutan untuk angkatan 2010 PD UNS). Seperti biasa, yang paling meramaikan adalah Pak Koti (pastinyaaaa), Pak Ketua (Pakdhe Farosh sama Gunung), lagi2 Ms. *** juga ada ;), Dewantari (as pemegang duit), Mbak Ilma Anisa, dan masih banyak lagi lah pokoknya…..
Jadi masih ngga sadar kalau selama sebulan aku jadi akrab sama yang namanya *** ini.. Ngalor ngidul bareng, rencana latihan basket bareng yang sampai sekarang masih rencana karena ngga ada yang nglatih hehehe.. Baru sadarnya di penutupan ini.. Menggila bareng, suka duka belum belajar UB, bawa2 cakul kemana2 sambil tetep nyanyi yel Achilles (jadi cakul itu Cuma buat ayem2 gitcyuuuu ^,^).. Klesotan sana sini sambil belajar buku kesuma.. Kalang kabut eNHa3 udah tutup dan belum ambil fotocopy-an materi dr. Dhani.. Nyari salon dan make up set buat Kartini Kartono dan lomba mendandani cowok (jadi inget Dian Fikri hihihi *piss*).. Pokoknya semua deeeehhhh :D :D
Hmmm apa lagi yaaa…. Oh, ya, nyanyi lagu kenangan “KEMESRAAN” waktu pemutaran video porsanti, hehe, berasa jadi emak2 :p ngga nyangka *** bisa juga lagu beginian, wkwkwk
Udah ah cerita Porsantinya..
Selepas Porsanti, uuhh masih banyak banget acara angkatan baik yang masih rencana maupun yang udah terlaksana yang bikin aku sama *** tambah edan bareng hahhaha..
Contohnya… Bakar2 angkatan.. Eits bukan angkatannya dibakar, tapi bakar2 jagung + sosis di depan BEM FK.. Sayangnya gara2 acaranya bareng sama acara “munggah bareng vagus”, si ibu negara a.k.a Ms. ******* baru muncul setelah acara selesai.. Tapi yang namanya ibu negara gitu loh yaaa, tetep aja dapet jagung sama sosis yang udah mateng tanpa repot2 bergelut dengan asap :p wkwkwk
Habis itu, ngehik bareng, ngembat helm nya vagus tanpa bilang yang baru dibalikin keesokan harinya (*** lho pelakunya, tapi yang makai aku, hahahha :p maaf yah mas2 mbak2 temen2 vagus hihi ^^)
Oya, gara2 ini bertepatan dengan libur yang “lumayan” panjang jadinya banyak yang ngga ikut gara2 pada pulang… hiks :’(
Lanjut……
Terus apalagi? Wah ada rapat rahasia antara aku dan *** di perpus waktu liburan hhahaha
Apa yang dibahas?? Rahasia negara donk!! Wkwk :p
Dari sini mulailah aku cerita2 sama dia nih.. Kali ini beneran ngalor ngidul + ngetan ngulon + munggah mudhun hahahahha
Tentang apa? Oops, lagi2 rahasia :D :D *curhat nih curhat :p*
So, apakah tahun depan aku jadi masuk vagus? Belum tau juga ya in *oops, keceplosan juga namanya*.. Masih mikir niy *sok2an mikir negara*
Yang jelas habis ini rencananya ak mau mbolang sama anak2 kassmadji *bekas es.em.aa sidji* + IIN… Rencananya sih nge-camp di pantai ^^
Oya, dia ngga jadi menggalau (atau menggila??) bersama diriku gara2 aku remed injeksi!!! Huh, ngga setia kawan kw in =,=
Pokoke bar iki kudu dolan..
Sudah, yaa, ceritanya.. Saya mau baca “Hematologi Klinik Ringkas” (lagi)…….. :D :D

haha….. gag tau nich mau ngekomen apa…. awal baca sih jadi merasa kalo ternyata selama ini aku suka berandai2 n punya kepinginan yang buanyak banget gag ketulungan kalo masalah mbolank. terbukti niken sampe ngerasa kalo acara-acara yang aku plann ma dia belum ada satupun yang berhasil. >.<
sedihnya, udah membuat kecewa sahabat pertamaku di fk. hehe. tapi ngmg2 dia mau nggak ya aku panggil sahabat.. hehe. betapa rendahnya aku yang mengais-ngais kepingan persahabatan dari orang yang begitu tinggi semacam niken.
agrrrhhhh gag ngerti lah, i can’t speak much better than it. RAsa terharuku nggak sanggup aku ungkapin ma kata2… biarlah semua rasa ini, rasa sayang ini tersimpan rapih dalam Episode Persahabatan di dalam hatiku. dan biarlah Allah yang menjadi saksi dan yang kan menjaga persahabatan kami hingga reuni di syurgaNya kelak.
i love u my best friend… ^^

jika ingin bertemu dengan sang fajar, bersiaplah untuk menghadapi malam..

Jika masalah diibaratkan malam, maka fajar adalah kabar gembira yang akan segera datang. hadapilah masalah yang membebani kita dengan tenang dan sabar, sebagaimana tenangnya kita saat tidur terlelap di malam hari. Sungguh pada malam yang pekat, jika kita mau berfikir terdapat pelajaran yang amat berharga; yaitu, kita belajar tenang dan sabar menghadapi masalah juga kita belajar untuk yakin se yakinnya, bahwa fajar kemenangan pasti akan datang tepat pada waktunya.. ^_^

repost by:: Aji Digda Aguna

why

saya rasa, butuh hijrah dr suatu negeri jika emang bener2 pengen berubah… apa saya yang harus pergi dr hidup nya?? Allah, beri saya petunjuk. saya tidak mau jika saya yang harus makan hati tiap hari… lalu kenapa semua fitnah ini terjadi? semua yang awalnya hanya biasa saja, tiba-tida dalam hitungan menit menjadi hal yang luar biasa. Menjadi sesuatu yang bahkan aku sendiri nggak mau mengingatnya. Allah… Allah…. BEri saya kekuatan. Gimme lil strange to face it.
Ya Allah… saya hanya nggak ingin menangis malam ini ya Allah. berilah jawaban atas kegalauan yang menimpa saya seharian ini ya Allah. Ampuni hambaMu yang lemah ini….
buat kamu yang ada di sana.. maaf, tapi saya merasa sangat sakit.
bolehkah saya menangis untuk malam ini saja?? Kenapa semua kesalahan yang jelas-jelas kau yang melakukan justru membuatku semakin merasa bersalah?? Allah… Ya RAbb…gimme strenght.. gimme strenght… Biarkan orang lain yang mambaca tulisan ini mengatakan apapun tentang saya. saya hanya sedang merasa berada di titik paling lemah pada kurva kelemahan saya. dan saya pun sedang berada di poin tertinggi di mana saya benar-benar muak dan menyesal telah mengenal nya. mengapa ini yang terjadi??
minna, gomenasai…
T.T

cambuk otak… 3,7?? Wowww….

Fakultas Kedokteran, tempat dimana studiku harus benar-benar aku lakukan disini. yah, studi. sekali lagi terusik dengan kata-kata studi. Siang tadi, sempat diriku ngobrol ma N****, salah seorang temenku anak kelas A. ngobrol ngalor ngidul akhirnya sampai pada pembahasan topik “orang-orang pinter” di FK angkatan 2010. tertohok sih tertohok, mau nggak mau saya memang harus mengubah arah studi ku yang sebelumnya masih suka berdasar pada logika matematis menjadi logika yang termix dalam ribuan kata-kata yang harus saya hafalkan dalam otak kecil saya. Obrolan kami akhir berujung pada sebuah nama. sebut saja inisialnya ESP, hehe. kita berdua sepakat lah untuk saat ini, dia yang menjuarai kelas A (terlepas dari kami nggak tau kondisi nya anak kelas B) selain II (nama samaran juga). IP nya ajja kemaren semester 1 3,7. gila ajja. JOss bener kan?? IP saya mah kagak ada tandingannya. Percakapan kami memberikan satu stimulus tersendiri buatku, membuatku menyadari akan satu hal, aku harus berubah menjadi orang seperti ESP maupun II yang emang bisa membagi waktu. ien, SEMANGAT. hihihihi

Belajar emang tidak mudah, tapi apa salahnya kita mulai dari belajar untuk belajar. Dari pembelajaran ini nanti, saya akan belajar untuk bener-bener menjadi pembelajar sejati. Hiks, yang arti secara jelasnya adalah saya harus belajar untuk mencintai buku dan mencintai membaca. Sebelum masuk ke kedokteran ini, aku bukanlah tipe manusia yang suka membaca. karena kemampuan verbal ku emang lebih bagus daripada kemampuan non verbal. Selama ini, aku rasa kemalasan paling malas ku adalah membaca. Aku lebih suka mengerjakan soal-soal matematika daripada soal-soal biologi. Lebih suka pidato daripada menulis essay ato mengarang. Yang intinya selama ini, aku bukanlah orang yang suka repot lah. apalagi suruh hafalan. God…. it’s too difficult. tapi mau nggak mau kalo mau jadi dokter yang baik, i have to try. really have to try.

SEMANGAT IEN….. Bismillah, IPK semester 3 harus bisa di atas 3,3.

muhasabah…part 2

hihihi…hari yang cukup membuat saya sekali lagi mengelus dada. Bagaimana tidak?? Hari ini sekali lagi saya dipermalukan oleh keadaan bahwa saya dikalahkan oleh kebodohan saya sendiri…
Bermula dari tanggal 29 September kemarin, saat itu saya sadar seratus persen bahwa dalam waktu dekat saya akan ujian blok pertama di fakultas saya. Keinginan untuk belajar sedemikian kuat sehingga kemanapun saya melangkah, saya selalu ditemani laptop kesayangan saya dan tumpukan kertas-kertas materi ujian yang bahkan beratnya pun hampir menyaingi beratnya laptop saya. Namun apa yang menjadi keinginan hasilnya gag akan sesuai dengan kenyataan jika tidak diimbangi dengan suatu usaha yang benar. Kumpulan slide hanya menjadi pemberat tas saya saja, sedang laptop malah keasikan saya pake buat onlen. Samapi akhirnya H-1 saya baru tersadar ternyata ada banyak slide juga yang belum ada print out nya sehingga saya harus ngeprint kekurangan dari materi yang seharusnya saya pelajari. Yahh, nasib berkata lain. Printer yang biasanya menemani perjalanan hidup cetak mencetak tugas-tugas maupun materi-materi saya ternyata harus rusak dan tag dapat diperbaiki. alhasil jam 10 malem, malam tepat sebelum ujian blok berlangsung materi yang saya punya belum begitu lengkap. Hihihi…. Apes..
Namun, keapesan mungkin bukanlah suatu pelajaran buat orang “bodoh” seperti saya. Bukannya persiapan, hafalan atau belajar buat besok saya malah keasikan chat via YM dengan teman lama saya. “dasar duduL”. mpe pagi pula.. >,<
Sodara-sodara, bukannya bertobat namun kesalahan saya lakukan lagi pagi harinya tepat hari dimana ujian blok berlangsung. Setelah sholat subuh, mata saya terasa tidak bisa dibuka lebar, terasa beraaaaatttt sekali. Diagnosis yang saya tegakkan terhadap penyakit yang diderita mata saya pagi ini adalah efek samping dari chattingan sampai pagi dengan teman saya dan terapi paling ampuh yang harus diberikan kepada pasien {yang dalam skenario ini adalah mata saya..} adalah tidur.
sekali dudul tetapp ajja duduL.
Akhirnya ujian blok pertama saya hari ini mau tidak mau harus saya lalui dengan menempelnya kata “terlambat” di jidat saya bagian dalam. Udah gitu salah masuk kelas lagi…
Huuuhhh apes dagh…
SAya jadi ingat dengan sebuah hadits dari Rasulullah “laa taqul ghodan-ghodan” yang artinya “janganlah kamu mengatakan besok dan besok”. Udah nangkep kan??
Proses berjalannya skenario ujain blok satu saya hari ini cukup memberikan pelajaran bahwa sekecil apapun suatu amalan janganlah kita menunda-nunda untuk mengerjakan amalan tersebut walau deadline atau tenggat waktu masih panjang. Karena pada dasarnya rasa malas merupakan hal yang sulit kita hindari dan dalam membujuk manusia, setan kemaksiatan mak akan memulai dari menimbulkan khayalan-khayalan gag jelas di kepala kita bahwasanya “everything to be oke…
hihihihihihihi

SEMANGAT Sobb!!!
dunia menanti kita….

cerita di atas ini sempat aku tulis duluuuuu banget pas 2 Oktober 2010. hihi. daripada ane baca sendiri, mending ane share ajja gan….